The Paradox of Hedonism

kenapa mengejar kebahagiaan secara langsung justru membuat kita makin tidak bahagia

The Paradox of Hedonism
I

Pernahkah kita merasa sangat kelelahan justru saat sedang berusaha keras untuk bersantai? Atau mungkin, kita merencanakan sebuah liburan akhir pekan yang begitu sempurna, namun saat kita rebahan di tepi pantai yang indah, kita malah merasa kosong? Selamat, kita tidak sendirian. Di era modern ini, kebahagiaan seolah menjadi semacam target pencapaian atau metrik kesuksesan kehidupan. Kita terus-menerus dijejali mantra positive vibes only di media sosial. Buku-buku pengembangan diri meneriakkan formula untuk bahagia setiap saat. Tapi anehnya, ada satu realitas yang kerap kita rasakan bersama: semakin keras kita mengejar kebahagiaan itu, rasanya ia justru semakin lari menjauh. Rasanya seperti menggenggam pasir terlalu erat, perlahan ia merembes jatuh dari sela-sela jari kita. Mengapa bisa begitu? Mari kita bicarakan sebuah jebakan psikologis yang diam-diam menjerat kita semua.

II

Mundur sejenak ke Inggris abad ke-19, ada seorang pemikir jenius bernama John Stuart Mill. Sejak kecil, ia dididik dengan sangat keras oleh ayahnya untuk menjadi manusia super-rasional. Mesin pemikir. Hidupnya diprogram untuk satu tujuan: memaksimalkan kebahagiaan umat manusia. Hasilnya? Di usia 20 tahun, ia malah mengalami depresi berat. Di masa-masa gelap itu, Mill menyadari satu ironi yang besar. Ia kemudian menulis bahwa mereka yang benar-benar bahagia adalah mereka yang memusatkan pikirannya pada hal lain di luar kebahagiaan diri mereka sendiri. Dalam ranah psikologi dan filsafat, fenomena ini kemudian dikenal luas dengan sebutan The Paradox of Hedonism atau Paradoks Hedonisme. Premisnya sederhana tapi sangat menohok. Kebahagiaan itu persis seperti kucing pemalu. Kalau kita lari mengejarnya, ia akan kabur ketakutan. Tapi kalau kita duduk diam, abaikan saja dia, dan fokus mengerjakan hal lain, tiba-tiba ia sudah meringkuk hangat di pangkuan kita. Namun, ini bukan sekadar pepatah puitis. Mari kita bedah fenomena ini menggunakan kacamata sains murni.

III

Untuk menjawab mengapa kebahagiaan begitu susah ditangkap, kita perlu melihat ke dalam isi kepala kita sendiri. Mari kita sepakati satu fakta evolusioner yang cukup brutal ini: otak kita tidak dirancang untuk membuat kita bahagia secara permanen. Otak kita hanya peduli pada satu hal mutlak, yaitu survival atau kelangsungan hidup. Ketika kita menetapkan "kebahagiaan" sebagai sebuah tujuan eksplisit yang harus dicapai, kita memicu sistem dopamin di otak. Dopamin ini sering disalahartikan sebagai hormon kebahagiaan, padahal ia sebenarnya adalah hormon antisipasi dan motivasi. Ia melonjak drastis sebelum kita mendapatkan apa yang kita mau, lalu langsung anjlok setelah benda itu ada di tangan. Pakar saraf menyebut siklus tanpa ujung ini sebagai hedonic treadmill. Bayangkan kita berlari di atas treadmill. Secepat apa pun kita lari mengejar mobil baru, gaji besar, atau validasi likes di internet, kita akan selalu kembali ke titik nol secara emosional. Otak kita akan segera beradaptasi. Parahnya lagi, saat kita terobsesi mengejar bahagia, kita jadi memonitor emosi kita sendiri seperti seorang detektif yang paranoid. Kita terus-menerus mengevaluasi, "Apakah saya sudah bahagia sekarang?" Pertanyaan itu menuntut jawaban. Dan ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, otak menerjemahkannya sebagai ancaman, yang pada akhirnya malah memicu hormon stres. Jika sistem saraf kita seolah diatur untuk menyabotase pencarian ini, lantas apakah kita semua ditakdirkan untuk menderita? Tentu tidak. Ada sebuah celah di sistem otak manusia yang bisa kita retas bersama.

IV

Kunci untuk meretas sistem biologis ini ternyata adalah dengan berhenti mengejarnya secara frontal. Dalam ilmu sains kompleksitas, ada sebuah konsep luar biasa yang disebut obliquity. Konsep ini menyatakan bahwa tujuan-tujuan yang sangat rumit justru paling ampuh dicapai secara tidak langsung, alias lewat jalur samping. Daripada sibuk mengejar happiness (kebahagiaan), sains psikologi dan sejarah kemanusiaan menyarankan kita untuk fokus mencari meaning (makna). Psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Holocaust, Viktor Frankl, pernah menegaskan hal ini. Ia menyimpulkan bahwa kebahagiaan tidak bisa diburu; ia harus terjadi dengan sendirinya sebagai efek samping alami dari dedikasi kita pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Coba perhatikan apa yang terjadi di otak kita saat kita tenggelam menulis cerita, merawat tanaman, mendengarkan keluh kesah sahabat, atau memecahkan masalah di tempat kerja. Saat kita sungguh-sungguh fokus, ada pergeseran aktivitas saraf. Jaringan di otak yang disebut default mode network—bagian yang sering membuat kita overthinking mengasihani diri sendiri—menjadi tenang. Aktivitas otak berpindah ke jaringan yang murni fokus pada tugas di luar diri. Tepat di titik hilangnya kesadaran egoistik itulah, kebahagiaan diam-diam menyelinap masuk lewat pintu belakang.

V

Pada akhirnya, kita mungkin perlu berdamai dengan sebuah fakta yang justru sangat melegakan. Tidak merasa bahagia setiap saat adalah hal yang teramat sangat manusiawi. Teman-teman, kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena hari ini kita sedang tidak merasa baik-baik saja. Berhenti memaksakan diri untuk selalu positif bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah langkah awal menuju kewarasan yang sesungguhnya. Lain kali kita merasa penat karena terus-terusan berusaha membuktikan bahwa kita ini orang yang bahagia, cobalah untuk berhenti sejenak. Tarik napas panjang. Lepaskan pengejaran yang melelahkan itu. Alihkan fokus kita pada apa pun yang ada tepat di depan mata. Seduh kopi dengan perlahan, baca buku tanpa ekspektasi, peluk orang terdekat, atau kerjakan sesuatu yang menurut kita bernilai, sekecil apa pun itu. Jangan kejar kebahagiaan. Biarkan kebahagiaan yang akhirnya menemukan kita.